PALEMBANG, CB– Seorang wartawan boleh saja berpulang, namun jejak pengabdian dan rasa persaudaraan yang ia tinggalkan tidak ikut terkubur. Itulah yang ditunjukkan keluarga besar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Selatan saat menyerahkan santunan kepada keluarga almarhum Amhar Yusaini, Jumat (7/8/2026).
Bantuan tersebut bukan sekadar sejumlah uang. Di balik santunan senilai Rp4.050.000 yang dihimpun dari sumbangan sukarela anggota PWI Sumsel, tersimpan pesan bahwa keluarga seorang wartawan yang telah mengabdikan diri untuk organisasi tidak pernah berjalan sendiri ketika musibah datang.
Santunan diserahkan oleh Wakil Ketua Bidang Antar Lembaga PWI Sumsel, Anwar Sy Rasuan, mewakili Ketua PWI Sumsel Kurnaidi, ST, kepada putra bungsu almarhum, Alkahvie Mahatma Putra, di Kantor PWI Sumsel. Penyerahan tersebut turut disaksikan Ketua PWI Peduli Sumsel M. Rofei Husin, Bendahara PWI Peduli Sumsel Amir Hamzah, serta staf PWI Sumsel Haula Abdullah.
Anwar Sy Rasuan mengatakan, bantuan itu merupakan amanah dari seluruh anggota PWI Sumsel sebagai bentuk empati dan penghormatan atas dedikasi almarhum selama menjadi bagian dari organisasi.
“Semoga bantuan ini dapat sedikit meringankan beban keluarga. Yang lebih penting, kami ingin keluarga almarhum mengetahui bahwa PWI tetap hadir dan tidak melupakan jasa anggotanya,” ujarnya.
sementara itu Ketua PWI Sumatera Selatan, Kurnaidi, ST, mengatakan bahwa santunan yang diberikan kepada keluarga almarhum Amhar Yusaini merupakan wujud nyata solidaritas dan kepedulian keluarga besar PWI Sumsel.
“Almarhum Amhar Yusaini bukan hanya anggota PWI, tetapi juga bagian dari keluarga besar kami. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam. Santunan ini mungkin tidak dapat menggantikan kehilangan yang dirasakan keluarga, namun kami berharap dapat menjadi bentuk perhatian, kebersamaan, dan dukungan moral agar keluarga yang ditinggalkan tetap kuat menghadapi cobaan ini,” ujar Kurnaidi.
Ia menegaskan, PWI Sumsel akan terus menjaga semangat persaudaraan di antara seluruh anggotanya, tidak hanya saat menjalankan tugas jurnalistik, tetapi juga ketika ada anggota maupun keluarganya yang tertimpa musibah.
“PWI dibangun atas nilai kebersamaan. Karena itu, ketika salah satu anggota mengalami musibah, sudah menjadi tanggung jawab moral kami untuk hadir. Semoga almarhum Amhar Yusaini mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala khilafnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan,” tutupnya.
Bagi keluarga, perhatian tersebut menjadi penguat di tengah duka yang masih menyelimuti. Mewakili keluarga, Alkahvie Mahatma Putra menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pengurus dan anggota PWI Sumsel yang telah memberikan doa, perhatian, serta bantuan.
“Semoga segala kebaikan yang diberikan menjadi amal ibadah dan mendapat balasan berlipat ganda dari Allah SWT,” ucapnya.
Di tengah dinamika profesi wartawan yang penuh tantangan, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa organisasi profesi tidak hanya hadir untuk memperjuangkan kepentingan anggotanya, tetapi juga merawat nilai kemanusiaan dan solidaritas.
Kepergian Amhar Yusaini memang meninggalkan duka bagi keluarga, sahabat, dan rekan seprofesi. Namun kepedulian yang ditunjukkan PWI Sumsel menjadi bukti bahwa ikatan kekeluargaan di antara insan pers tetap hidup, bahkan ketika salah satu anggotanya telah berpulang.
Di balik setiap berita yang pernah ditulis seorang wartawan, selalu ada keluarga yang ikut berjuang. Dan ketika wartawan itu tiada, keluarga besar PWI Sumsel memilih untuk tetap hadir, menjaga, dan menguatkan mereka yang ditinggalkan.(hnd)






