Jakarta, CB– Korban meninggal dunia dalam pelaksanaan Latihan Dasar Militer (Latsarmil) bagi calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) kembali bertambah. Nola Dya Sari dilaporkan menjadi peserta kelima yang meninggal dunia setelah mengalami sesak napas, sempat mendapatkan penanganan medis, namun akhirnya tidak tertolong.
Sebelumnya, empat peserta lainnya juga meninggal dunia dengan penyebab berbeda. Yonanda Muhammad Taufiq dilaporkan meninggal akibat cardiac arrest, Anisa Muyassaroh karena heat stroke, Novia Rahmadhani Sihotang akibat komplikasi tuberkulosis (TB), sedangkan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan juga dilaporkan meninggal saat mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Bertambahnya jumlah korban menjadi lima orang memunculkan sorotan terhadap pelaksanaan Latsarmil, terutama menyangkut aspek keselamatan peserta, kesiapan layanan kesehatan, manajemen risiko, hingga sistem pengawasan selama kegiatan berlangsung.
“Lima peserta telah meninggal dengan penyebab yang berbeda-beda. Fakta ini memunculkan pertanyaan besar mengenai pelaksanaan, pengawasan, manajemen risiko, serta urgensi evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut,” demikian pandangan yang berkembang di tengah perhatian publik terhadap program tersebut.
Di tengah duka yang terus bertambah, masyarakat kini menantikan langkah pemerintah dalam merespons kejadian ini. Evaluasi menyeluruh dinilai penting untuk memastikan penyelenggaraan kegiatan serupa benar-benar mengutamakan keselamatan peserta.
“Apakah pelaksanaan Latsarmil akan tetap dilanjutkan tanpa evaluasi menyeluruh? Ataukah keselamatan peserta akan menjadi prioritas utama sebelum program ini kembali digelar?” menjadi pertanyaan yang mengemuka di ruang publik.
Kasus meninggalnya lima peserta dengan latar belakang penyebab yang berbeda mendorong berbagai pihak meminta adanya investigasi dan evaluasi komprehensif terhadap standar operasional, pemeriksaan kesehatan peserta, kesiapan tenaga medis, serta mekanisme penanganan keadaan darurat selama pelaksanaan latihan.
Pemerintah maupun penyelenggara program diharapkan memberikan penjelasan resmi terkait hasil evaluasi, penyebab setiap insiden, serta langkah-langkah yang akan ditempuh untuk mencegah kejadian serupa terulang.
“Lima nyawa telah melayang. Sampai kapan evaluasi akan menunggu? Haruskah ada korban berikutnya sebelum langkah tegas benar-benar diambil?” demikian pertanyaan yang terus menjadi perhatian publik.






