BANYUASIN, CB — Panglima Kodam II/Sriwijaya Mayor Jenderal TNI Ujang Darwis, M.D.A. menghadiri uji coba inovasi pemadam kebakaran berbahan dasar singkong di Desa Muara Sugih, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Selasa (1/9/2026).
Kehadiran Pangdam II/Sriwijaya didampingi Komandan Korem (Danrem) 044/Garuda Dempo (Gapo) Brigjen TNI Khabib Mahfud, S.IP., M.M. dan Komandan Kodim (Dandim) 0430/Banyuasin Letkol Inf Handoyo Yudi Prasetyo, S.E., M.H.I., M.Han.
Uji coba tersebut menjadi bagian dari upaya jajaran TNI AD di Sumatera Selatan mencari alternatif penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya pada wilayah yang memiliki karakteristik lahan gambut.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Serka Adi Setiawan, Babinsa Kodim 0406 Lubuklinggau. Formula pemadam api berbasis singkong itu disebut telah dikembangkan sejak 2015 dengan memanfaatkan bahan-bahan alami dan organik.
Dalam pemaparannya, Serka Adi menjelaskan formula tersebut dibuat melalui sejumlah tahapan, mulai dari pengolahan singkong menjadi bubuk, pengambilan sari pati dan ampas, proses ekstraksi serta fermentasi selama kurang lebih tiga minggu.
Bahan yang telah dikeringkan dan disaring kemudian dipadukan dengan komponen alami lainnya serta ditambahkan CO2 hingga membentuk kristal. Kristal tersebut selanjutnya dicampurkan ke dalam air untuk digunakan dalam proses pemadaman.
“Formula ini sifatnya mengunci oksigen, sehingga api bisa padam dan asap juga terikat. Kadar pH dari formula ini 12, sedangkan lahan di gambut itu asam,” ujar Serka Adi.
Menurut dia, formula tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pemadaman dan pendinginan sekaligus membantu menutup celah-celah pada lahan gambut.
“Dengan formula ini, bisa mempercepat pemadaman dan pendinginan serta mengikat oksigen. Sehingga, celah-celah lahan gambut tertutupi dengan formula ini atau pemadam api berbasis singkong,” katanya.
Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal TNI Ujang Darwis menaruh perhatian terhadap inovasi tersebut sebagai salah satu alternatif yang dapat dikembangkan untuk mendukung upaya penanggulangan karhutla.
Menurutnya, inovasi dari personel TNI tersebut perlu dilihat tidak hanya dari sisi kemampuan memadamkan api, tetapi juga dari aspek efektivitas, keamanan, dampak terhadap lingkungan, serta peluang pemanfaatannya dalam jangka panjang.
Pengembangan inovasi tersebut juga dinilai sejalan dengan kebutuhan penanganan karhutla yang membutuhkan metode efektif, cepat dan dapat diterapkan sesuai kondisi lapangan, terutama di wilayah gambut.
Formula berbasis singkong itu disebut memiliki sejumlah bentuk turunan. Selain dicampurkan dengan air untuk penyemprotan, formula tersebut dapat dikembangkan menjadi jeli yang berfungsi menutup rongga atau celah pada lahan gambut.
Bahan utama yang digunakan juga diklaim berasal dari bahan alami dan organik. Setelah berada di dalam tanah, material tersebut disebut berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk.
“Bahan utama yang digunakan semuanya alami dan organik. Jadi, selain bisa memadamkan api di lahan yang terbakar, setelah berada di dalam tanah formula ini bisa dijadikan pupuk. Karena, ini terbuat dari bahan organik,” jelas Serka Adi.
Tidak hanya untuk penanganan karhutla, inovasi tersebut juga diklaim memiliki potensi lain, di antaranya membantu menjernihkan air yang keruh, berminyak dan asam.
Sementara itu, Danrem 044/Gapo Brigjen TNI Khabib Mahfud mengatakan inovasi tersebut berpeluang menjadi salah satu solusi dalam penanganan karhutla sekaligus memiliki manfaat lanjutan bagi lingkungan.
“Ini bisa menjadi solusi untuk ke depan dalam penanganan karhutla sekaligus bisa dimanfaatkan menjadi pupuk,” kata Khabib.
Untuk memastikan inovasi tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan secara lebih terukur, Korem 044/Gapo akan menyiapkan sejumlah personel dari jajaran Korem maupun Kodim.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempelajari formula, proses penerapan hingga efektivitasnya di lapangan sebelum masuk pada tahapan produksi dalam skala lebih besar.
Khabib menegaskan, produksi massal tidak akan dilakukan secara terburu-buru. Formula tersebut terlebih dahulu harus melalui tahapan penelitian dan memenuhi aspek legalitas, termasuk hak paten.
“Korem 044/Gapo akan memberikan sejumlah personel baik yang ada di Korem maupun Kodim untuk mempelajari pemadam api berbasis singkong ini. Nantinya, setelah semuanya selesai dan memiliki hak paten baru bisa dilakukan produksi massal,” pungkasnya.
Uji coba tersebut sekaligus menunjukkan perhatian Kodam II/Sriwijaya terhadap pengembangan inovasi dari prajurit untuk mendukung kepentingan masyarakat, khususnya dalam menghadapi ancaman karhutla yang setiap tahun menjadi salah satu tantangan di wilayah Sumatera Selatan. (**)






