Inovasi Pemadam Api Berbasis Singkong Diuji untuk Atasi Karhutla Banyuasin

BANYUASIN, CB — Inovasi pemadam kebakaran berbahan dasar singkong mulai diimplementasikan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Serka Adi Setiawan, Babinsa Kodim 0406 Lubuklinggau yang disebut sebagai pencetus inovasi tersebut, dihadirkan ke Desa Muara Sugih, Kecamatan Tanjung Lago, Banyuasin, Selasa (1/9/2026).

Kehadiran Serka Adi ditujukan untuk memperkenalkan sekaligus mengimplementasikan formula pemadam api berbasis singkong di wilayah yang memiliki potensi karhutla.

Serka Adi menjelaskan, inovasi tersebut telah dikembangkannya sejak 2015. Gagasan itu berangkat dari upaya memanfaatkan bahan alami berupa singkong menjadi formula pemadam api yang dinilai lebih ramah lingkungan.

Dalam proses pembuatannya, singkong terlebih dahulu diubah menjadi bubuk. Sari pati dan ampasnya kemudian diekstrak dan menjalani proses fermentasi selama kurang lebih tiga minggu.

Setelah melalui proses pengeringan dan penyaringan, bahan alami tersebut kemudian dipadukan dengan komponen lainnya dan ditambahkan karbon dioksida (CO2) hingga membentuk kristal. Kristal inilah yang selanjutnya dicampurkan ke dalam air untuk digunakan dalam proses penyemprotan pada lahan yang terbakar.

“Formula ini sifatnya mengunci oksigen, sehingga api bisa padam dan asap juga terikat. Kadar pH dari formula ini 12, sedangkan lahan di gambut itu asam,” kata Serka Adi.

Menurutnya, karakteristik formula tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pemadaman sekaligus pendinginan pada lahan gambut.

“Dengan formula ini, bisa mempercepat pemadaman dan pendinginan serta mengikat oksigen. Sehingga, celah-celah lahan gambut tertutupi dengan formula ini atau pemadam api berbasis singkong,” ujarnya.

Tidak hanya dalam bentuk cair, hasil penelitian tersebut juga dikembangkan dalam sejumlah bentuk turunan. Salah satunya berupa jeli yang dapat digunakan untuk menutup rongga atau celah pada lahan gambut.

Serka Adi menyebut seluruh bahan utama yang digunakan dalam formula tersebut berasal dari bahan alami dan organik. Karena itu, setelah berada di dalam tanah, material tersebut diklaim dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.

“Bahan utama yang digunakan semuanya alami dan organik. Jadi, selain bisa memadamkan api di lahan yang terbakar, setelah berada di dalam tanah formula ini bisa dijadikan pupuk. Karena, ini terbuat dari bahan organik,” jelasnya.

Menariknya, formula berbasis singkong tersebut juga diklaim memiliki fungsi lain, yakni membantu menjernihkan air yang keruh, berminyak, maupun memiliki tingkat keasaman tertentu.

Menurut Serka Adi, pencampuran formula tersebut ke dalam air keruh atau berminyak dan asam dapat membantu membuat kondisi air menjadi lebih netral.

Sementara itu, Danrem 044/Gapo Brigjen TNI Khabib Mahfud yang didampingi Dandim 0430/Banyuasin Letkol Inf. Handoyo Yudi Prasetyo mengatakan, inovasi tersebut berpotensi menjadi salah satu alternatif dalam penanganan karhutla di masa mendatang.

Ia menilai formula tersebut tidak hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi juga memiliki potensi pemanfaatan lanjutan sebagai pupuk.

“Ini bisa menjadi solusi untuk ke depan dalam penanganan karhutla sekaligus bisa dimanfaatkan menjadi pupuk,” tutur Khabib.

Untuk memastikan efektivitas dan memahami penerapan inovasi tersebut, Korem 044/Gapo akan menyiapkan personel dari jajaran Korem maupun Kodim untuk mempelajarinya.

“Korem 044/Gapo akan memberikan sejumlah personel baik yang ada di Korem maupun Kodim untuk mempelajari pemadam api berbasis singkong ini,” ujarnya.

Menurut Khabib, produksi secara massal baru akan dilakukan setelah formula tersebut melalui tahapan penelitian dan memiliki hak paten.

“Nantinya, setelah semuanya selesai dan memiliki hak paten baru bisa dilakukan produksi massal,” pungkasnya. (**)