
PALEMBANG, CB— Menjadi wartawan berarti siap berkejaran dengan waktu. Menjadi mahasiswa berarti harus disiplin membagi waktu. Namun bagi Hendri, keduanya bukan pilihan yang harus dipertentangkan. Ia memilih menjalani keduanya sekaligus—bekerja sebagai wartawan sembari menuntaskan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Tamansiswa Palembang.
Perjalanan panjang itu akhirnya sampai pada satu momen yang membanggakan. Kamis, 3 September 2026, Hendri dijadwalkan mengikuti Yudisium Fakultas Hukum Universitas Tamansiswa Palembang yang berlangsung di Beston Hotel Palembang.
Bagi Hendri, yudisium bukan sekadar seremoni akademik. Di balik toga dan gelar Sarjana Hukum yang akan disandangnya, tersimpan cerita tentang perjuangan membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, tugas jurnalistik, perkuliahan hingga penyelesaian tugas akhir.
Ketika Deadline Berita Bertemu Deadline Kuliah
Dunia jurnalistik tidak mengenal banyak kompromi. Sebuah peristiwa bisa terjadi kapan saja. Narasumber bisa ditemui pagi, siang bahkan malam. Berita harus ditulis dan disampaikan kepada publik dalam waktu yang tidak jarang sangat terbatas.
Di tengah rutinitas tersebut, Hendri tetap harus menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa.
Ada kalanya setelah seharian berada di lapangan mencari berita, ia masih harus membuka buku, membaca referensi, mengerjakan tugas dan mempersiapkan kebutuhan akademik.
Lelah tentu ada. Jenuh pun bukan sesuatu yang asing.Tetapi Hendri memilih terus berjalan.Baginya, pekerjaan bukan alasan untuk meninggalkan pendidikan, begitu pula pendidikan bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab sebagai wartawan.
Pilihan menempuh pendidikan hukum juga memiliki hubungan erat dengan profesinya sebagai wartawan.Dalam menjalankan tugas jurnalistik, seorang wartawan berhadapan dengan berbagai persoalan masyarakat, kebijakan pemerintah, penegakan hukum dan dinamika sosial. Pemahaman hukum menjadi bekal penting agar informasi yang disampaikan kepada publik tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki landasan dan tanggung jawab.
“Menjadi wartawan membuat saya banyak belajar dari masyarakat dan berbagai persoalan yang terjadi di lapangan. Kuliah hukum semakin memperluas cara pandang saya dalam melihat persoalan tersebut,” ujar Hendri.
Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan tidak boleh berhenti menjadi sekadar gelar.
Ilmu hukum harus menjadi bekal untuk meningkatkan profesionalisme dan memberikan manfaat bagi masyarakat ucap nya.
Perjalanan Hendri menjadi gambaran bahwa pendidikan dapat ditempuh siapa saja, termasuk mereka yang harus membagi waktu dengan pekerjaan.Tidak harus menunggu kehidupan menjadi longgar. Tidak harus menunggu pekerjaan selesai. Sebab, pekerjaan tidak akan pernah benar-benar selesai.Yang dibutuhkan adalah kemauan, konsistensi dan keberanian untuk memulai.
Hendri membuktikan bahwa kesibukan bukan penghalang untuk meraih pendidikan. Justru dari kesibukan itulah lahir perjuangan yang membuat sebuah pencapaian menjadi lebih bermakna.
Kini, setelah melewati proses akademik yang panjang, gelar Sarjana Hukum menjadi tambahan bekal dalam perjalanan hidupnya. Namun bagi Hendri, gelar bukan garis akhir.Ini adalah awal untuk melangkah lebih jauh.
Sebagai wartawan, ia akan tetap menggunakan pena untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Sebagai sarjana hukum, ia membawa pengetahuan baru untuk memahami persoalan hukum dan kehidupan sosial secara lebih mendalam.
Dan pada 3 September 2026 di Beston Hotel Palembang, sebuah babak baru akan dimulai Hendri, sang wartawan, resmi menyandang gelar Sarjana Hukum.
Sebuah pencapaian yang bukan lahir dari kemudahan, tetapi dari keberanian untuk terus berjalan meski waktu terbatas dan perjuangan tidak ringan.(**)






