KKL Wilhan Seskoad, 14 Pasis Dikreg LXVIII Sambangi Manggala Agni Banyuasin Bahas Strategi Pencegahan Karhutla

PANGKALAN BALAI, CB— Sebanyak 14 Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVIII Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) Tahun 2026 mengunjungi Kantor Manggala Agni Kabupaten Banyuasin.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Lapangan Wilayah Pertahanan (KKL Wilhan), sekaligus menjadi momentum untuk menggali potensi sumber daya wilayah pertahanan serta memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Dalam kegiatan tersebut, para Pasis mendapat pemaparan langsung mengenai kondisi dan tantangan penanggulangan Karhutla di Kabupaten Banyuasin dari salah satu pimpinan Manggala Agni Banyuasin, Marto.

Marto menjelaskan, salah satu kendala utama yang dihadapi Manggala Agni adalah luasnya wilayah kerja. Jarak menuju lokasi kebakaran yang cukup jauh juga menjadi tantangan tersendiri karena dapat memengaruhi kecepatan petugas mencapai titik api.

“Kendala utama yang kami hadapi salah satunya adalah luasnya wilayah kerja dan jarak lokasi kebakaran yang cukup jauh. Kondisi ini membuat waktu yang dibutuhkan untuk menuju titik kebakaran relatif lama,” ungkap Marto.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin kompleks karena masih terbatasnya jumlah personel serta material dan peralatan pendukung yang tersedia di lapangan.

Marto menegaskan, tugas Manggala Agni tidak sebatas melakukan pemadaman ketika kebakaran terjadi. Petugas juga memiliki tanggung jawab dalam upaya pencegahan, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

“Dengan keterbatasan sumber daya yang ada, pelaksanaan seluruh tugas tersebut menjadi lebih berat, khususnya ketika terjadi kebakaran pada wilayah yang luas dan sulit dijangkau,” katanya.

Ia menambahkan, ketika terjadi kebakaran dengan jumlah titik api yang banyak, Manggala Agni harus menentukan skala prioritas penanganan. Titik api dengan skala besar dan memiliki potensi meluas akan menjadi perhatian utama.

Selain keterbatasan personel dan peralatan, persoalan lain yang dihadapi adalah proses deteksi titik api secara cepat. Menurut Marto, saat ini belum tersedia alat khusus di lapangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi secara langsung potensi maupun ancaman kebakaran.

“Kendala lainnya adalah sulitnya mendeteksi dan menemukan titik api secara cepat, sehingga pemadaman dapat terlambat,” jelasnya.

Untuk mengatasi keterbatasan personel apabila terjadi kebakaran di sejumlah lokasi secara bersamaan, Manggala Agni mengoptimalkan dukungan dari berbagai unsur yang berada di wilayah sekitar.

Bantuan tersebut dapat berasal dari masyarakat melalui kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA), maupun unsur pemadam kebakaran daerah. Koordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran juga terus dilakukan, terutama ketika penanganan membutuhkan tambahan personel maupun peralatan.

Marto menekankan bahwa penanganan Karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja. Diperlukan kolaborasi nyata antara Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah daerah, perusahaan, Damkar, serta masyarakat.

“Secara keseluruhan, penanganan Karhutla membutuhkan sinergi antara Manggala Agni, Damkar, TNI, pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat. Keterbatasan personel dan peralatan dapat diminimalkan melalui koordinasi serta dukungan bersama,” ujarnya.

Ia juga menilai aspek pencegahan perlu mendapat perhatian lebih besar dengan meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Edukasi mengenai bahaya serta dampak pembakaran hutan dan lahan dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menekan potensi terjadinya Karhutla.

Kegiatan KKL Wilhan ini sekaligus memperkuat pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi Karhutla, khususnya di wilayah Kabupaten Banyuasin yang memiliki wilayah cukup luas dan sejumlah kawasan yang rawan kebakaran.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pendamping Pasis Kolonel Inf Sapta Budi Purnama selaku dosen, Kolonel Inf Alfian selaku Patun, serta dua pendamping dari Kodim 0430/Banyuasin, yakni Kapten Inf Panca Agung dan Kapten Inf Erwin Suhaimi.(**)