MUBA – Mantan karyawan PT Amartha Mikro Fintek (AMF) berinisial P dijemput langsung ke rumahnya pada Sabtu (7/12) setelah dianggap tidak mengindahkan surat panggilan pertama hingga ketiga untuk memberikan keterangan.
Penjemputan tersebut menghebohkan warga sekitar dan dinilai merugikan pihak keluarga, sebab mereka mengaku tidak pernah menerima surat panggilan apa pun sebelumnya.
“Tolong ini diselesaikan. Tidak ada sangkut pautnya dengan anak saya. Ini urusan antara atasan dengan atasan, anak saya tidak tahu apa-apa, jadi jangan dilibatkan. Kami sangat dirugikan, apalagi tidak ada surat apa pun yang kami terima sebelum penjemputan ini. Kami akan datang jika memang ada undangan resmi,” ujar DN, ibu dari P.
Menanggapi kejadian itu, Eks Area Manager (AM) Banyuasin AS menduga ada unsur kesengajaan yang dilakukan oleh oknum Regional Manager (RM) Sumsel 1 berinisial RWS serta pihak yang menggantikan dirinya.
“Orang yang sudah di-SPHK gajinya mereka hold bisa masukkan kembali, apalagi hal semacam ini. Mantan karyawan di luar provinsi pun surat panggilannya bisa sampai rumah jika benar dikirim. Saya menduga surat untuk P sebenarnya sudah diserahkan ke cabang Sekayu dan diminta diantar ke rumah yang jaraknya hanya 15 menit dari kantor, namun sengaja tidak diantar,” tegas AS.
AS menambahkan, sejak dirinya mengundurkan diri pada 4 September 2023 lalu, banyak kerugian yang ia dan rekan-rekannya alami.
“Pada 26 Agustus 2023 semua akses kami ditutup, dan sejak itu kami tidak tahu lagi data terbaru perusahaan. Lalu 4 September kami resmi mengajukan resign, dan baru pada 10 September 2024 keluar email approve resign berdasarkan diskusi dengan Tim Audit dan Investigasi. Ini tolong dicermati, yang masih bekerja tentu lebih tahu kondisi di lapangan. Bahkan dalam SOP disebutkan RM wajib melakukan surprise visit setiap minggu agar tahu apa yang terjadi di perusahaan dan tentunya dia mengetahui yang terjadi, Jangan sampai terus-menerus merugikan kami yang sudah tidak bekerja,” jelasnya.
Lebih lanjut, AS meminta manajemen PT Amartha Mikro Fintek untuk menuntut RM Sumsel 1 berinisial RWS agar bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut.
“Tolong dilihat apa yang terjadi setelah kami mengundurkan diri. Ada pengganti kami dan RM Sumsel 1 RWS yang dulu memberikan instruksi bahkan intimidasi kepada bawahan, tapi sampai sekarang masih bekerja, yang seharusnya RWS bertanggung jawab penuh, bukan cuci tangan dan mengkambinghitamkan tim yang dulu membantu mengharumkan nama nya,” tandas AS.
AS berharap agar kejadian seperti yang dialami P tidak terulang kembali. Jika memang ada surat panggilan, pihak perusahaan diharapkan memastikan surat tersebut benar-benar sampai ke tangan yang bersangkutan.
(Editor: ZK)






