Penyaluran Tak Sesuai Pedoman BGN, SPPG Sedulang Berkah Bersama Salurkan MBG Sekali Sepekan

Banyuasin, CB- Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah menuai kritik tajam dari wali murid penerima manfaat. Pasalnya, mekanisme penyaluran MBG yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN) sebanyak dua kali dalam sepekan tidak dijalankan sepenuhnya oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Sedulang Berkah Bersama Kelurahan Kedondong Raye Kabupaten Banyuasin, yang hanya menyalurkan bantuan satu kali dalam seminggu.

Di lapangan, MBG disebut hanya disalurkan satu kali dalam sepekan, berbeda dengan ketentuan resmi BGN yang telah diatur dalam Pedoman Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG Selama Libur Sekolah sebagaimana tertuang dalam Keputusan Kepala BGN Nomor 52.1 Tahun 2025.

Dalam pedoman tersebut dijelaskan bahwa paket MBG selama libur sekolah terdiri atas satu paket makanan siap santap dan dua paket makanan kemasan tahan lama. Distribusi dilakukan maksimal dua kali dalam sepekan dengan skema kombinasi, yakni makanan siap santap yang dikonsumsi di sekolah dan makanan kemasan yang dibawa pulang oleh siswa.

BGN menegaskan, skema dua kali penyaluran per pekan bertujuan menjaga kesegaran dan keamanan pangan, memastikan pemenuhan asupan gizi anak secara berkelanjutan, serta menghindari risiko kerusakan makanan akibat penyimpanan terlalu lama.

Namun, perbedaan antara ketentuan dan praktik di lapangan memunculkan dugaan ketidaksesuaian pelaksanaan program. Wali murid mempertanyakan apakah porsi dan nilai gizi makanan yang diberikan benar-benar mencukupi kebutuhan anak untuk satu minggu penuh, termasuk kesesuaian dengan anggaran yang dialokasikan.

Sorotan semakin menguat lantaran menu yang diterima dinilai berpotensi menurun kualitasnya jika disimpan terlalu lama. Beberapa wali murid mengungkapkan adanya makanan seperti telur rebus yang secara umum tidak memiliki daya simpan hingga satu minggu, sehingga dikhawatirkan tidak lagi aman dikonsumsi.

“Apakah porsi makanan itu benar-benar sesuai dengan anggaran untuk satu minggu? Bahkan ada makanan seperti telur rebus yang jelas tidak bisa bertahan selama seminggu,” ujar Alam, salah satu wali murid penerima MBG, Senin (22/12).

Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut kesehatan anak serta tujuan utama program MBG untuk meningkatkan asupan gizi. Menurutnya, penyelenggara seharusnya memiliki perencanaan menu yang lebih matang, terutama saat masa libur sekolah.

“Kondisi ini butuh perhatian serius. Seharusnya ada inovasi dalam penyusunan menu agar aman dan tetap bergizi,” tambahnya.

Dia mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG selama libur sekolah, termasuk kejelasan alasan pengurangan frekuensi penyaluran serta pengawasan dari BGN terkait keputusan yang di ambil oleh SPPG Yayasan Sedulang Berkah Bersama.

Hingga berita ini diturunkan, pihak SPPG Yayasan Sedulang Berkah Bersama maupun Pihak Badan Gizi Nasional  yang ditugaskan di Kabupaten Banyuasin belum memberikan keterangan resmi.  (AY)