PALEMBANG, CB– Panglima Kodam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Ujang Darwis, M.D.A., menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Sumatera Selatan yang digelar di Ruang Rapat VIP Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Kamis (22/10/2026).
Rakor tersebut melibatkan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sumsel serta sejumlah instansi terkait, di antaranya TNI, Polri, BPBD, BMKG, BKSDA, Manggala Agni, dan Dinas Kesehatan. Pertemuan ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mengantisipasi dan menangani ancaman karhutla.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Gubernur Sumatera Selatan, dilanjutkan pemaparan kondisi terkini dan langkah penanganan karhutla. Danrem 044/Gapo menyampaikan perkembangan situasi di lapangan serta upaya pemadaman melalui jalur darat, sedangkan BMKG memaparkan prakiraan cuaca dan potensi titik panas sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah antisipasi.
Pembahasan juga mencakup kesiapan penanganan melalui jalur udara. Danlanud Sultan Mahmud Badaruddin selaku Dansatgas Udara bersama pihak Angkasa Pura, AirNav, BKSDA, dan Manggala Agni membahas kesiapan armada serta prosedur teknis pemadaman udara agar pelaksanaannya tetap memperhatikan keselamatan dan kelancaran penerbangan.
Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan menyampaikan kesiapan fasilitas dan tenaga medis untuk mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.
Sinergi lintas sektor menjadi kunci
Rakor ini diharapkan mampu memperjelas pembagian tugas, memperkuat komunikasi, serta mempercepat respons antarlembaga ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Keterlibatan berbagai instansi menjadi bagian penting dari upaya penanganan karhutla secara terpadu, mulai dari pemantauan wilayah rawan, pencegahan, pemadaman, hingga penanganan dampak asap terhadap masyarakat.
Dengan koordinasi yang terarah antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan instansi teknis, penanganan karhutla di Sumatera Selatan diharapkan berjalan lebih efektif dan terukur, sekaligus melindungi keselamatan masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan.
Namun, efektivitas upaya tersebut tetap bergantung pada kesiapan personel dan peralatan, kecepatan penanganan di lapangan, serta konsistensi pengawasan dan pencegahan di wilayah rawan karhutla. (Rill)






