Dunia Pendidikan Sumsel Kian Memprihatinkan: Siswa dan Guru Sama-Sama Terlibat Kekerasan

Palembang, CB – Dunia pendidikan di Sumatera Selatan tengah menjadi sorotan. Setelah kasus perundungan sesama pelajar di Muratara, kini dua peristiwa berbeda di Kota Palembang kembali mencoreng citra pendidikan: satu melibatkan siswa dan guru, satu lagi sesama tenaga pendidik.

Kasus pertama terjadi di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) negeri. Seorang siswa dituduh mengonsumsi narkoba dan mengaku menjadi korban perundungan (bullying). Merasa tak terima, orang tua siswa tersebut mengamuk di sekolah. Insiden itu terekam warga dan viral di media sosial, menambah panjang daftar masalah dunia pendidikan di Sumsel.

Tak kalah heboh, kasus kedua melibatkan dua guru di salah satu SMA negeri Palembang. Seorang guru bernama Yuli Mirza (58) dianiaya rekan sejawatnya, SR, hingga mengalami luka-luka. Aksi tersebut terekam kamera CCTV sekolah dan videonya juga viral di media sosial.

Kepada polisi, Yuli menceritakan kejadian berawal saat ia hendak mengajukan berkas sertifikasi. Operator sekolah berinisial Y memintanya menghadap kepala sekolah, namun Yuli menolak karena merasa sudah melaksanakan tugasnya. Cekcok pun terjadi, dan tiba-tiba SR datang memaki korban.

“Saya keluar ruangan untuk menghindar, tapi SR malah menghampiri dan menampar wajah saya dua kali, lalu membenturkan kepala saya ke dinding tiga kali,” ujar Yuli.
Akibat kejadian itu, Yuli mengalami luka lecet di pipi kanan, memar di kepala belakang, nyeri di telinga kiri, serta luka di jari tangan. Ia kini dirawat di RS Karya Asih Cabang RS RK Charitas, Kelurahan Lebung Gajah, Kecamatan Sematang Borang.

Peristiwa penganiayaan itu terjadi sekitar pukul 11.05 WIB, Rabu (15/10). Kepala sekolah, Dra. Hj. Ema Nurnisya Putri, M.M., membenarkan kejadian tersebut dan menyebutkan diduga terjadi karena miskomunikasi terkait pekerjaan.

“Kami sangat menyayangkan peristiwa antara guru senior dan guru junior ini. Guru seharusnya menjadi teladan bagi para siswa,” ujarnya.

Menurut Ema, pihak sekolah telah melakukan pembinaan secara rutin, baik formal maupun nonformal, serta telah melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel. Ia menambahkan, pihaknya juga telah memediasi kedua belah pihak agar menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

“Guru yang melakukan pemukulan telah diminta membuat permohonan maaf. Tapi kami tetap menyesalkan insiden ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kapolsek Sako AKP Makmun Martawinata melalui Kanit Reskrim AKP Apriansyah membenarkan laporan korban telah diterima pada Rabu (15/10).

“Laporan korban sudah kami proses. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan, memeriksa saksi-saksi, serta mengumpulkan barang bukti,” jelasnya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, Hj. Mondyaboni, S.E., S.Kom., M.Si., M.Pd., menyatakan pihaknya telah memanggil semua pihak yang terlibat, baik pada kasus antara siswa dan guru di SMK negeri, maupun sesama guru di SMA negeri.

“Kami sangat menyayangkan kejadian-kejadian ini. Kami sudah menugaskan bidang terkait untuk memediasi agar persoalan dapat diselesaikan secara kekeluargaan,” ujarnya, Jumat (17/10).

Mondyaboni menegaskan pentingnya pendidikan karakter di lingkungan sekolah.

“Guru harus bisa mencerminkan perilaku teladan bagi siswanya. Begitu pula siswa, harus berperilaku sopan dan berkarakter sesuai nilai-nilai Pancasila dan hukum yang berlaku,” tegasnya. Tim)