BANYUASIN, CB — Kabut asap tebal kembali menyelimuti ibu kota Kabupaten Banyuasin, Pangkalan Balai, Minggu (13/9/2026). Kondisi tersebut diduga merupakan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kecamatan Banyuasin III.
Sehari sebelumnya, Sabtu (12/9), kebakaran dilaporkan melanda lahan dan kebun karet milik warga di wilayah Desa Pelajau dan sekitarnya. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare.

Pada Minggu pagi, asap terlihat cukup pekat hingga mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat. Bahkan, bau dan asap disebut terasa hingga masuk ke dalam rumah warga.
Kondisi ini mulai menimbulkan kekhawatiran, khususnya bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah. Mereka khawatir paparan asap dalam kondisi cukup parah dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Kami khawatir anak-anak terkena ISPA. Kalau kondisi asap seperti ini terus berlangsung, sebaiknya sekolah mempertimbangkan pembelajaran secara daring atau online sementara,” ujar seorang warga.
Warga menilai keselamatan dan kesehatan anak-anak perlu menjadi pertimbangan utama apabila kualitas udara memburuk dan kabut asap terus bertahan.
Persoalannya, karhutla bukan hanya mengenai titik api yang harus dipadamkan. Ketika asap sudah masuk ke permukiman dan mengganggu aktivitas warga, langkah mitigasi terhadap dampak kesehatan juga menjadi hal yang mendesak.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan tidak hanya fokus pada pemadaman api, tetapi juga memastikan informasi kualitas udara, imbauan kesehatan, perlindungan kelompok rentan, serta kebijakan terhadap aktivitas pendidikan disampaikan secara cepat dan terukur.
Hingga Minggu pagi, kondisi kabut asap masih menjadi perhatian warga di Pangkalan Balai dan sekitarnya. Masyarakat berharap penanganan karhutla dapat segera dilakukan secara maksimal agar asap tidak semakin meluas dan membahayakan kesehatan masyarakat. (**)






